Mengenal Haenyeo, Ibu-ibu di Pulau Jeju yang Mampu Menyelam Tanpa Tabung Oksigen

Seoul – Di Pulau Jeju, Korea Selatan, sekelompok perempuan penyelam tradisional yang dikenal sebagai Haenyeo (dibaca: hen-yo) INITOGEL menantang batas kemampuan manusia setiap hari.

Mereka menyelam ke kedalaman Laut China Timur tanpa bantuan alat pernapasan untuk memanen hasil laut seperti landak laut dan kerang, dikutip dari Sciencenews, Kamis (28/8/2025).

Namun lebih dari sekadar tradisi, aktivitas mereka ternyata mencatatkan rekor luar biasa: para Haenyeo menghabiskan waktu di bawah air lebih lama dibandingkan manusia mana pun yang pernah diteliti sebelumnya — antara satu hingga lima jam setiap hari.

“Ini sedekat mungkin dengan mempelajari putri duyung,” kata Chris McKnight, ahli biologi mamalia laut dari Universitas St. Andrews, Skotlandia.

Bersama timnya, McKnight meneliti tujuh penyelam Haenyeo dari Jeju. Mereka mencatat data dari 1.786 penyelaman, memantau durasi, kedalaman, serta kadar oksigen di otak dan otot para penyelam menggunakan perangkat khusus.

Dalam satu sesi penyelaman yang berlangsung dua hingga sepuluh jam, para Haenyeo menghabiskan rata-rata 56 persen waktunya di bawah permukaan air.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan beberapa mamalia laut seperti beruang kutub, berang-berang, bahkan berang-berang laut. Aktivitas luar biasa ini menjadi bukti betapa adaptif dan kuatnya tubuh manusia dalam kondisi ekstrem — apalagi mengingat rata-rata usia para penyelam ini adalah 70 tahun.

Tradisi menyelam Haenyeo sendiri telah berlangsung selama sekitar 3.000 tahun. Penelitian sebelumnya dilakukan di laboratorium, namun McKnight dan timnya ingin memahami kemampuan mereka dalam kondisi alami — untuk melihat bagaimana mereka benar-benar berfungsi sebagai “manusia laut” dan bagaimana itu bisa dibandingkan dengan mamalia air lainnya.

Nenek Moyang Warga Jeju

Kim Mi Kyung menjadi haenyeo dalam drakor Welcome to Samdal-ri. (Instagram/ kim_mee_kyung)

Kim Mi Kyung menjadi haenyeo dalam drakor Welcome to Samdal-ri. (Instagram/ kim_mee_kyung)

Studi ini juga memberi petunjuk tentang bagaimana nenek moyang paus dan mamalia laut lainnya berevolusi dari kehidupan di darat ke laut.

Hal yangmengejutkan, alih-alih menunjukkan tanda-tanda khas respon menyelam mamalia seperti detak jantung yang melambat dan penurunan kadar oksigen, tubuh Haenyeo justru bereaksi sebaliknya.

Detak jantung mereka meningkat, dan kadar oksigen di otak serta otot mereka tetap stabil. Hal ini diduga karena pola penyelaman mereka yang relatif dangkal dan sering — hanya sekitar 3 hingga 15 kaki, dengan durasi rata-rata 11 detik di bawah air dan sembilan detik di permukaan untuk mengambil napas.

Faktor usia menjadi sorotan utama. Melissa Ilardo, ahli genetika evolusioner dari Universitas Utah yang ikut menulis studi ini, mengatakan bahwa kesehatan luar biasa para Haenyeo membuka pintu untuk riset lebih lanjut. Dalam studi laboratorium terpisah, Ilardo menemukan variasi genetik pada para penyelam yang berkaitan dengan tekanan darah dan toleransi terhadap suhu dingin — kemampuan yang bisa berperan besar dalam kelangsungan aktivitas mereka.

Adaptasi para Haenyeo

Haenyeo, Penyelam Wanita Dari Jeju

Haenyeo Korea Selatan menyelam saat menangkap kerang dan abalone di pulau Jeju, 23 November 2018. Mereka mampu menyelam ke kedalaman sampai 20 meter dan menahan napas lebih dari 2 menit, bahkan di musim dingin sekalipun. (AP/Ahn Young-joon)

Tak hanya soal oksigen, para Haenyeo juga diyakini telah beradaptasi untuk mentoleransi kadar karbon dioksida tinggi dalam tubuh mereka — kondisi yang biasanya memicu kecemasan atau rasa panik pada kebanyakan orang. McKnight menyebut adaptasi ini sebagai hal yang layak diteliti lebih dalam di masa mendatang.

Menurut Ted Cheeseman, ahli biologi kelautan yang tidak terlibat dalam riset ini, perilaku menyelam Haenyeo sangat mirip dengan mamalia laut seperti berang-berang laut, yang melakukan penyelaman dangkal dan berkali-kali. “Kemampuan mereka untuk menghabiskan lebih dari separuh waktunya di bawah air benar-benar menunjukkan bagaimana budaya bisa mendorong evolusi,” ujarnya.

Dengan kombinasi kekuatan fisik, adaptasi fisiologis, dan tekad yang diwariskan lintas generasi, para Haenyeo bukan hanya penyelam — mereka adalah simbol ketangguhan manusia dan cerminan indah dari hubungan antara budaya dan alam.

Sumber : Pesanlab99.id